Keberanian dan Kejelasan dalam Komunikasi dan Konflik

mtzBQfa

“Kan gue udah bilang?”

“Lho, kok bisa sih? ‘Kan udah sepakat?”

Akrab dengan kalimat-kalimat di atas? Dalam pekerjaan dan kegiatan apapun, kalimat di atas adalah indikasi kesalahan berkomunikasi. Sedihnya, kendala komunikasi tidak hanya merusak sebuah kegiatan, bahkan bisa menghancurkan pertemanan bahkan kemesraan suami-istri.

Sebetulnya apa sih yang ajaib dari komunikasi itu?

Satu hal yang paling diperlukan dalam komunikasi adalah kejelasan (Clarity). Artinya, Anda mengatakan yang ingin Anda katakana. Anda menjelaskan tanpa kemungkinan makna lain (ambigu). Pemahaman tidak bisa diasumsikan. Pemahaman, perlu diuji. “Apakah kita membicarakan hal yang sama?” “Apakah benar itu yang kamu maksudkan?”

“Dia pasti sebel gara-gara saya ngomong gitu tadi”

Membaca pikiran itu, mungkin keren untuk jadi cerita di film. Namun, menerapkannya pada situasi sehari-hari sangat riskan mengundang konflik. Merasa tahu itu berbahaya. Berbahaya karena selain kebanyakan dari kita bukan penganut aliran kebatinan, kita bicara pada bahasa yang bisa didengar dan dipastikan melalui pertanyaan dan jawaban. Kita cenderung membenarkan perasaan kita sendiri, berdasarkan ‘bukti-bukti’ yang seolah membenarkan tebakan kita tadi.

“Harusnya dia ngerti dong, saya ga suka diperlakukan seperti itu.” Merasa orang lain tahu, lebih berbahaya lagi. Bagaimana kita bisa mengharapkan orang lain tahu apa yang kita rasakan dan pikirkan, jika kita sendiri kadang tidak jelas benar dengan apa yang kita rasakan?

Duduk bersama, letakkan ‘masalah’ di atas meja. Bersama-sama meletakkan perasaan dan pikiran untuk kemudian sama-sama melihat. Terdengar mudah ‘kan? Iya, jauh lebih mudah tanpa asumsi membaca pikiran dan merasa orang lain dapat membaca pikiran itu tadi.

Sepanjang Anda hidup dengan manusia, selama itu pula Anda akan bertemu dengan konflik. Menghindari, ngumpet, menjauh, itu tidak mungkin. Ibaratnya Anda membakar ekor Anda sendiri, yang suatu saat akan membuat bagian belakang Anda panas kebakaran.

Hadapi konflik dengan keberanian. Lho? Berani? Bawa golok gitu maksudnya? Bukan, berani berasal dari kata courage. Sebuah kata yang berasal dari kata couer (hati). Sedangkan courage bukan lah berarti berani, galak dan kasar. Berani dalam arti kualitas hati untuk menghadapi kesulitan. Beda ‘kan?

Berani menghadapi konflik memang tidak mudah. Diperlukan kualitas hati yang lebih kuat untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi dan pilihan-pilihan apa yang ada. Mengalah kah? Berkompromi kah? Berkolaborasi, atau bertoleransi?

Letak keberanian membicarakan apa yang terjadi tanpa tergiring emosi menampilkan kualitas kemampuan komunikasi yang paling canggih. Kita tahu para negosiator dan lobbyist ulung, memiliki kemampuan membaca perbedaan kepentingan, meletakkannya di atas meja dan kekuatan mental memberi jarak pada perasaannya sendiri, untuk memilih di antara pilihan-pilihan itu, agar menghasilkan kondisi yang paling baik bagi sesama.

Jadi, terus asah kemampuan komunikasi Anda. Konflik, selalu ada gunanya. Ia menguji visi, menguji komitmen dan kebersamaan. Dalam pertemanan, pekerjaan, hubungan pertemanan hingga hubungan suami-istri.

*info tentang pelatihan komunikasi dan softskills lainnya, bisa Anda dapat dapatkan dengan mengirim email ke This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau telpon: +622183254525