Melatih Intuisi, Menajamkan Kepekaan

nJ6WQM4

Pernah kah Anda pergi ke dokter mumpuni untuk memeriksakan diri? Apa yang membedakan antara dokter baru lulus dengan dokter yang sudah sangat berpengalaman? Pernahkah Anda pergi memeriksakan mobil Anda kepada mekanik bengkel? Apa bedanya antara mekanik yang berpengalaman dan yang newbie alias cupu?

Entah kenapa, dokter yang sudah piawai, berpengalaman panjang, memegang bagian tubuh Anda sedikit saja, atau membaca hasil test darah Anda, dia seolah sudah bisa mendiagnosis penyakit Anda. Atau mekanik yang baru mendengarkan bunyi mesin segera tahu dimana letak ‘kesalahan’ mesin mobil Anda.

Malcolm Gladwell menyebut hal ini sebagai hasil 10 ribu jam latihan yang membuat seseorang mampu berpikir dalam sekedipan mata, in a blink. Namun, satu hal yang seringkali kita dengar namun jarang kita pahami adalah: mereka memiliki kekuatan intuitif.

Tidak ada yang ajaib atau klenik tentang intuisi. Lynn Robinson menjelaskan intuisi sebagai: “a way of knowing, of sensing the truth without explanations.” Sebuah cara mengetahui suatu kebenaran tanpa penjelasan (logis). Bentuknya bisa bermacam-macam. Menurut Robinson, intuisi dapat berupa lintasan imajinasi di ruang benak kita, atau perasaan lintasan hati yang yakin atau sensasi fisik seperti merinding.

Siapa yang tidak ingin memiliki intuisi setajam dokter paling jago, mekanik paling mumpuni, atau penembak paling jitu? Kita semua mau. Memudahkan pekerjaan, meningkatkan pencapaian dan kualitas diri berlipat ganda. Pertanyaannya, bagaimana caranya?

Intuisi, memang bukan klenik yang ajiannya bisa kita lakukan dengan berpuasa 40 hari atau berendam di mata air tertentu. Namun, seperti semua latihan di segala medan, ia mensyaratkan kedisiplinan. Ia menghendaki keteguhan latihan terus menerus, melampaui bosan dan lelah, hingga intuisi terasah.

1.Ajak bicara intuisi Anda.

Seberapa sering Anda mendengar diri Anda bicara? Sering kali ia diabaikan karena Anda cenderung mendengarkan suara yang bisa didengar secara fisik. Sehingga, ketika Anda pertamakali melakukannya, barangkali Anda bingung dengan kebisingan yang Anda ‘dengar di dalam’. Ya, to listen, you need to be silent. Ada yang ajaib dalam sebuah keheningan. Ada suara yang sangat kuat ketika Anda mencapai keheningan dengan diri Anda. The power of quietude. Latih lah cara ini. Dalam mengambil keputusan sederhana misalnya hendak makan. Apakah tubuh Anda memerlukan makan? Apakah makanan ini akan baik bagi tubuh Anda? Dan seterusnya

2. Ikuti energi dari dalam Orang bilang: kata hati.

Bagaimana membedakannya? Sekali lagi, mulai dengan sederhana. Sesuatu yang Anda inginkan dan baik bagi Anda, biasanya menarik dan menginginkan Anda juga. Jika Anda bingung untuk suatu subyek seminar misalnya, pilih yang paling menarik antusiasme Anda. Putuskan memilih yang paling menarik bagi Anda.

3. Buat prioritas dengan hati

Membuat things to-do-list atau agenda harian adalah kebiasaan orang yang memiliki target dan rencana. Terlampau mengandalkan pikiran Anda semata, kadang berarti mengabaikan kecerdasan hati Anda. Tanyakan pada diri Anda: apa tiga hal yang akan mendekatkan Anda pada Tujuan Tertinggi Anda? Tulis apapun yang terlintas secara spontan.

4. Perhatikan apa yang terlintas dalam rutinitas.

Ketika Anda berjalan, berolahraga seperti berenang atau jogging, Anda tidak menggunakan pikiran sadar secara penuh. Anda menggunakan gelombang otak lain yang disebut gelombang Alfa. Anda hanya fokus pada satu hal, namun ia melonggarkan tekanan pada diri Anda, sehingga memampukan Anda memberi jawaban pada persoalan yang tengah Anda hadapi. Kadang, jawaban muncul begitu saja. Perhatikan jawaban-jawaban berharga itu.

5. Memantau kata-kata di dalam diri.

Intuisi kita sesungguhnya terus menerus menyampaikan pesan. Namun, kata-kata yang kita ucapkan pada diri kita, memaksakan logika atau ‘gimana kalau’ alias what- ifs, membuat pesan-pesan itu seperti tenggelam. Terbenam menjadi sampah yang kita pikir tak berharga untuk diperhatikan. Sejalan dengan quietude, kita memerlukan waktu untuk memantau kata-kata menjadi positif agar keterampilan intuitif kita hidup dan menyala kembali.

"Takutlah kamu pada firasat seorang mukmin karena dia melihat dengan cahaya dari Allah Ta'ala." Demikian sabda Baginda Rasul..