Puasa adalah Undangan Berbicara

Manusia selalu mencari jawaban. A man search for himself, demikian Rollo May berkata. Berbicara kekinian, kita perlu menengok social media sejenak, kita menyadari bahwa dunia dan budaya mendukung hiruk pikuk pencarian jawaban manusia di luar dirinya. Berbagai kegundahan, pertanyaan dan kegelisahan, ditumpahkan pada status dan twit. Dan, karena memang dunia maya, maka jawabannya pun semu. Tidak salah, memang. Sayangnya, pencarian keluar seringkali biasanya membuat pencarian ke dalam yang memang membutuhkan waktu dan keheningan diabaikan. Tampak tidak sesuai dengan tuntutan dunia sibuk dan instan. Maka, kesenangan pun dicari dengan cara yang paling primitif: pemuasan emosi melalui makanan atau curhat.

Ada kegiatan sangat personal yang sangat intens mengelola komunikasi ke dalam, yaitu puasa. Puasa dengan alasan kedisiplinan dalam kerangka ibadah dirancang untuk mengalihkan pikiran kita jauh dari makanan, dan (diharapkan) mengarahkan fokus kita ke diri kita di dalam. Puasa dapat membantu kita menemukan akar masalah dari penyakit gejala emosi dan fisik. Bahkan mendukung tercerahkannya konflik spiritual.

Meski ditemukan dalam berbagai agama, tercatat Gandhi yang mengatakan: puasa adalah laku spiritual, merasuk ke dalam diri dan bersinonim dengan doa. Puasa tidak hanya tentang pengendalian diri, namun penguatan keyakinan mengabdi kepada Tuhan. Jika Anda mencari kedekatan dengan Tuhan, puasa akan mempercepat kedekatan itu. Puasa, menurut pandanngan spiritual, perlu lakukan bersamaan dengan doa, meditasi dan kegiatan kontemplatif. Dengan cepat, akar permasalahan, penyakit dan ‘kesalahan’ spiritual Anda, mengemuka dan terselesaikan dengan sendirinya.

Selama berpuasa, tubuh dan pikiran beristirahat dan menjadi relaks secara progresif, terlepas dari tekanan stress sehari-hari. Dimensi spiritual Anda muncul ke permukaan dan meningkat dalam kepekaan. Seiring dengan berlanjutnya puasa, perasaan damai muncul seolah meditasi panjang terus menerus sedang terjadi pada diri Anda. Secara alamiah, Anda merasa terhubung dengan pusat diri yang menjadi ‘akses’ dengan Keilahiahan. Perasaan penyerahan yang mendalam dari berpuasa dapat meningkatkan koneksi spiritual Anda.

Puasa adalah sebuah undangan bicara. Undangan untuk membuka kepekaan ke dalam. Kerinduan untuk sebuah nyanyian kebahagiaan diri, ketika menemukan harmoni. Setiap bagian dalam diri yang selalu merindukan harmoni, menemukan ritmenya melalui ‘pengendalian diri’ dalam berpuasa. Puasa jika dihayati secara mindful adalah telaga kehausan spiritual yang hilang dalam kehidupan supersibuk. Puasa adalah pemenuhan gizi spiritual, ketika tubuh lapar.

Beribu tahun yang lalu, Sang Baginda telah mengabarkan kata Tuhan tentang puasa: "Hanyalah dia mengekang syahwatnya dan makanannya karena Aku. Maka puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberi pahala untuknya. Setiap kebaikan dibalas sepuluh kali yang semisalnya hingga tujuh ratus kali lipatnya, kecuali puasa. Maka puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberi pahalanya."