Puasa: Melepas Keterikatan Diri, Cermin Empati

o36tAZy
Randi Frederick, seorang PhD Psikologi Transpersonal yang memusatkan perhatiannya pada kegiatan puasa di berbagai agama menguraikan sejarah panjang aktivitas puasa dalam kajiannya. Puasa telah ditemukan sejak jaman Romawi, Mesir dan Yunani Kuno. Namun saat itu, puasa lebih banyak dilakukan untuk pembersihan diri dari dosa atau kegiatan yang dilakukan sebelum melakukan ritual ibadah lainnya.
Sebagai praktek spiritual, puasa memberikan peluang untuk melepaskan keterikatan diri, menyatu dengan yang disucikan, dan menciptakan perasaan terkoneksi yang mendalam. Bahkan, kajian khusus tentang puasa diistilahkan dalam Psikologi Transpersonal sebagai EHE (Exceptional Human Experiences). William Braud berkata: pengalaman berpuasa mengingatkan pada individu keterhubungannya dengan orang lain dan seluruh alam. Aktivitas puasanya sendiri sudah membuka peluang bagi kesadaran terkoneksi dengan sesama dan alam.
Kondisi mental berpuasa, juga membentangkan peluang pengalaman ‘menyatu’, transformasi personal dan kesadaran meditatif serta pengalaman mental dan spiritual yang menakjubkan bagi pelakunya. Syarat terjadi perubahan kesadaran ini adalah: penghayatan (mindfulness) kehadiran pengetahuan terhadap apa yang sedang dijalani. Jika puasa dan segala ‘keajaibannya’ dilakukan tanpa kesadaran alias ‘taken for granted’ maka, puasa yang dimaksud tidak mengantar pelakunya pada  kesadaran yang lebih tinggi. Beribadah, memang perlu dibarengi dengan menambah ilmu.
Dalam konteks puasa Ramadhan, ketika bentuk ibadah lain mendukung ‘kesadaran berempati’ maka manfaat mental dan spiritual ini seharusnya lebih mudah diraih. Saat menahan lapar dan aturan  bahwa harus menghindari pikiran dan perkataan buruk, dan pengetahuan ganjaran berlipat bagi mereka yang menjalankan perbuatan baik, seperti: berbagi sahur, berbagi buka dan lebih banyak bersedekah, menjadi pengalaman yang  menyentuh kesadaran berempati.
Empati (atau empatheia berasal dari bahasa Yunani yang artinya: merasa ke dalam) adalah sebuah kemampuan. Kemampuan empati dimungkinkan karena adannya neuron dalam neurocicuitry di otak kita teraktifkan oleh perasaan tertentu. Kita tahu bahwa berpuasa membuat indera (senses) dan perasaan menjadi lebih aktif. Indera itu pula yang menyampaikan pesan lebih aktif terhadap apapun yang tertangkap di luar. Kita menjadi lebih terbuka pada pengalam sosial, lebih tersentuh untuk memberi karena kemampuan penginderaan yang meningkat dan kesadaran (consciousness) yang lebih tinggi karena berpuasa.
Kondisi safe-mode ketika tubuh mengaktifkan autolisisnya menyajikan kesempatan bagi diri untuk menemukan kebisuan. Inner dialoge yang menurun ketika berpuasa, membuat Anda lebih mampu mendengar ‘perasaan’ Anda sendiri dan ‘merasakan’ yang ditemui dalam diri orang lain. Sehingga, puasa tampaknya  memang latihan paripurna yang melatih seluruh matra: fisik, psikis dan spiritual. Empati, bisa menjadi indikator yang baik dari keberhasilan puasa. Bila dilakukan dengan intensi dan penghayatan yang baik, maka optimal pula dampak perubahan puasa bagi diri pelakunya. 
Demikian pentingnya intensi atau niat dan meyakini puasa sebagai aktivitas yang baik, sehingga diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw.: Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya .” (HR. Abu Dawud).