Benarkah Seluruh Mahluk Berpuasa?

images

Apa yang dilakukan oleh seorang atlet sebelum tanding? Mereka biasanya dikarantina dalam sebuah TC (training center). Makanan dibatasi, latihan ditambah, berat badan selalu diukur, untuk petinju bahkan satu poin ukuran HB sangat berpengaruh pada staminanya.

Ada dimana para prajurit sebelum dikirimkan ke medan pertempuran? Sejak dahulu kala, petarung dan prajurit dikenal menjalani ritual dan bertirakat dengan puasa agar bisa mencapai puncak ‘kesaktiannya’ saat berperang. Mereka berpuasa, selain berlatih fisik mental, taktik dan strategi hingga waktunya turun berperang.

Ada dimana penyanyi sesaat sebelum konser? Jangan coba-coba mengganggu jadwalnya, karena untuk mencapai performa puncak, ia dilatih habis-habisan. Berlatih fisik, mental teknik menyanyi, koreografi dan lainnya. Itu manusia yang ‘berpuasa’ tanpa mereka sadari.

Bagaimana dengan binatang? Ular, setelah makan, membuat dirinya diam dan mengelupaskan kulitnya, agar tumbuh kembali yang baru, yang lebih sehat, lebih kuat. Ulat sutra menjalani puasanya dalam dekapan erat kepompong. Binatang kecil ini menyiapkan sayapnya sebelum kuat menjalani hidup sebagai kupu-kupu. Ayam yang sedang mengerami telurnya pun berpuasa selama 21 hari. Hewan-hewan di Negara 4 musim menjalani hibernasi sepanjang musim dingin.

Tumbuhan? Rumput berpuasa menjadi kering dan seolah-olah tidak bisa bertahan hidup di musim kemarau, puasa pohon adalah meranggas, menggugurkan daun-daunnya, memaksimalkan cadangan energi untuk dapat hidup.

Melihat kita adalah mahluk paling sempurna, maka bentuk puasa kita pun puasa yang paling sempurna di antara seluruh mahluk lainnya. Umat muslim tidak diperkenankan puasa berhari-hari seperti ayam. Bahkan tidak puluhan hari seperti penganut agam lain. Kita ‘hanya’ memindahkan jam makan minum pada jam-jam yang diperbolehkan, yaitu ketika maghrib hingga cahaya subuh muncul, memadai untuk membedakan benang hitam dan benang putih. Namun sama sekali tidak mengurangi manfaat positif bagi puasa kita.

Puasa itu magis, dan kemagisannya tidak habis dikupas. Secara fisik, telah banyak diteliti manfaat puasa bagi fisik manusia, secar mental dan emosi, telah banyak manfaat latihan emosi yang mencerdaskan, secara spiritual, kebeningan jiwa karena fungsi meditatif puasa yang panjang, tak pernah habis dibahas.

Sama sekali tidak bermaksud mencoba menguji kesempurnaan puasa Ramadhan sebagai latihan jiwa dan raga, tulisan ini hanya mengajak Anda merenung sejenak. Kita, partikel mungil dalam semesta raya, berserasi dengan seluruh mahluk yang memang berpuasa sebagai ketundukkan jiwa dan raga pada Sang Penguasa Alamnya. Puasa memang untuk Allah Ta’ala, seperti yang dikatakannya puasa itu untukKU, namun Allah tidak butuh puasa kita. Sebagai mahluk di semesta yang teramat butuh, dengan manfaat yang melampaui kemampuan kita untuk memahaminya. Namun sekadar mencoba memahaminya, merenunginya, bahkan sudah mampu menerbitkan rasa syukur yang membuat air mata menitik.

”Sesungguhnya amalan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa maka dia adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya).