Pura-pura, Bolehkah?

Pernahkah Anda mengalami saat dimana emosi benar-benar sedang betul-betul down?

Perasaan sedang sangat tidak percaya diri, lemah, merasa tidak berdaya, sangat sedih dan sangat tidak bersemangat?

Sulitnya lagi, keadaan ini kadang muncul ketika Anda sedang bersiap untuk sebuah pertemuan penting.

Saat-saat ketika Anda perlu melakukan pemaparan pada calon klien yang sangat potensial atau perlu berbicara di depan ratusan orang atau memimpin rapat sebuah proyek besar super njlimet.

Entah kemana lenyapnya kePD-an, kemana raibnya semangat, kemana perginya daya lenting yang biasanya menjadi bagian dari diri Anda.

Pernah iseng menanyakan pada penyiar radio kawakan, entertainer atau pemain sinetron stripping pernahkah dia mengalami hal seperti ini? Keadaan ini sangat manusiawi. Tidak seorang pun terhindar dari lowpoints dalam hidupnya. Bedanya, para entertainer itu secara alamiah punya trik, agar penampilannya tetap ‘segar’ dan seperti orang tidak pernah susah. Hanya saja alasannya seringkali agak abstrak bagi kita: “Bersikap professional” atau “Ini tuntutan pekerjaan.” Yak, boleh saja, mari kita tiru tekniknya, dan kita niatkan bukan sekadar untuk tuntutan pekerjaan tetapi untuk semata-mata kebaikan diri kita dan banyak orang.

Pernah dengar ‘fake it ’til you make it’? Sering kali kita dengar tips itu sebagai rumus “sukses”. Berpura-pura sukses agar kita memiliki kebiasaan seperti orang sukses, sehingga akhirnya dengan mudah kita bisa sukses. Ide ini pun bisa diterapkan pada emosi kita yang lagi ‘galau parah.’ Idenya pun sangat sederhana, jika Anda pernah mengalami sesuatu di masa lalu, maka dengan mudah Anda dapat mengalaminya lagi di masa depan. Bahkan dalam emosi, kita bisa merasakan emosi tersebut bersamaan dengan sensasi di bagian tubuh tertentu. Misalnya senang yang sedikit melayang di sekitar kepala, atau senang yang membuat sedikit sesak di daerah sekitar dada, dan seterusnya. Biasanya kita tidak menyadari hal ini, karena terjadi di luar kesadaran kita. Namun ketika Anda menghayatinya, Anda dapat merasakan atau mengamati sensasi ini di tubuh Anda.

Teorinya adalah ketika tubuh Anda melakukan gerakan tertentu, emosi Anda akan ‘mengikutinya’. Anda misalnya, tidak bisa benar-benar sedih ketika Anda sedang tertawa. Jadi, jika sangat sedih, pura-puralah tertawa. Meski awalnya terdengar garing, otak tidak lagi dapat membedakan, Anda pura-pura tertawa, atau tertawa beneran? Sehingga chemistry di tubuh Anda akan mengeluarkan hormon yang’tepat’. Akhirnya emosi ‘senang’ yang selalu hadir ketika tertawa pun akan terhadirkan. Begitu juga ketika sedang malas, berpura-pura lah rajin. Bergerak lebih bertenaga, lebih cepat dan sigap. Anda pun masuk dalam ‘flow’ rajin sehingga menjadi rajin seketika.

Di dunia NLP, kita tahu bahwa jika kita memiliki seseorang yang kita ingin tiru kehebatannya dan orang ini memiliki sumberdaya yang juga kita ingin miliki, kita bisa memodelnya. Kita bisa meniru caranya berjalan, menghabiskan waktu, melangkah, bergerak dan seterusnya. Sampai kemudian kita seperti ‘menjadi seperti dia’. Artinya, jika kita terapkan pada diri kita sendiri, maka kita, dapat meniru diri kita sendiri diri pada saat-saat terbaiknya. Anda tentu punya saat-saat merasa sangat berdaya, percaya diri, bahagia, dan begitu mudah melakukan apa yang ingini Anda lakukan.

Jadi, jangan mau lama-lama sedih. Anda memiliki remote control atau channel perasaan Anda!

1400 tahun lalu, Rasulullah berdoa: "Ya Allah, jadikanlah hatiku lebih baik daripada wujud lahiriahku dan baikkan lah perilaku lahiriahku."

2010-01-21-megaremote