Melepaskan 85% Masalah dalam Hidup

mhAMV0a

Seorang pakar berkata, 85% dari masalah yang kita hadapi dalam hidup berasal dari hubungan kita dengan orang lain. Terbayang kah betapa sengsaranya kita jika hubungan yang semestinya menjadi jaringan pengaman, menjadi sumber kebahagiaan, sumber semangat dan kebaikan, justru menjadi sumber masalah bagi kita?

Sebagian dari kita memiliki satu, dua atau beberapa orang yang membuat membuat kita tidak nyaman menyebut namanya. Sosok yang mungkin membuat Anda enggan menghadiri sebuah acara, sosok yang membuat Anda membatalkan keterlibatan ANda ketika mengetahui orang itu juga ikut serta atau simply, ia menimbulkan rasa tidak nyaman ketika berdekatan yang tidak selalu mudah dijelaskan.

Mungkin orang itu mertua Anda, boss Anda, guru, tetangga, teman sepermainan, mantan istri atau mantan suami, siapa saja yang menimbulkan jejak kelam di ingatan Anda. Tahukah Anda, indikasi tersebut menunjukkan kita masih menggenggam bara di tangan kita. Meski kita tidak mengatakan kita membencinya, tetapi: “Kalau bisa ngga usah ketemu deh.

Sadarkah Anda, bahwa keadaan ini berarti Anda telah menyerahkan sebuah batu besar di depan pintu kebahagiaan Anda. Orang ini, siapapun itu, mengisi, mengokupasi memenuhi sebuah ruang dalam diri Anda yang harusnya terisi dengan kebahagiaan. Sebagai gantnya, ia terisi ketikdanyamanan, kegelisahan, kemarahan atau emosi negatif lainnya.

Pernahkah Anda mendengar sebuah cerita tentang monyet dan kacang? Suatu ketika si monyet ini ingin sekali maka kacang. Ia menemukan sebutir kelapa dengan lubang kecil. Ia melihat isinya dan mengguncang-guncangnya. Berbunyi, Ternyata ada satu kacang did alamnya! Ia kemudian memasukkan tangannya ke dalam batok kelapa itu. Tangan kecilnya meraih kacang. Aha! Dapat. Begitu pikirnya. Ia kemudian menarik tangannya dari lubang itu. Tidak bisa. Tangan yang terkepal menggenggam kacang membuat lubang menjadi terlalu kecil. Sekuat tenaga dikeluarkannya jacang itu dengan menarik tangannya dari lubang. Berbagai cara ia lakukan, termasuk berupaya memecahkan batok kelapa, Waktu berlalu, ia menjadi semakin marah dan kesal. Dipukulkannya batok itu sekuat-kuatnya ke kepalanya. Sedemikian kerasnya monyet itu monyet itu memukul kepalanya, hingga akhirnya ia lemas dan mati.

Setelah mati, tentu tangan tidak lagi terkepal dan tangan bersama kacangpun keluar dari lubang itu dengan mudahnya.

Seringkali kita bertingkah tak ubahnya seperti monyet itu. Menggenggam kemarahan, kesedihan, curiga, cemburu, iri dan emosi negatif lainnya. Menyalahkan pihak lain atas apa yang kita kita rasakan ketika emosi itu begitu tidak nyaman mengaliri diri kita. Plus, merekatkan emosi tersebut pada sosok yang kita bahas sebelumnya di atas.

Ada satu cara yang sebetulnya teramat mudah: Melapaskan. Ada beberapa kata yang berkaitan dengan ‘melepaskan’: penerimaan, toleransi, tidak mengatur dan memaksa. Sesederhana itu. Melepaskan.

Namun demikian eratnya kita menggenggam emosi negative ini, sehingga kita tidak tahu bagaimana cara melepaskannya. Emosi negatif ini umumnya kita alami ketika kita memiliki kebutuhan untuk mengendalikan hidup orang lain. Lho, kok begitu? Iya. Kita berkata: “Harusnya dia gak begitu pada saya.” “Kok dia gitu amat sih.” Seolah-olah kita hanay bisa bahagia ketika orang lain melakukan sesuatu atau berhenti melakukan sesuatu pada kita. Dengan mengendalikannya, kita merasa, apapun yang ia lakukan, atau tidak lakukan, mempengaruhi hidup kita. Kebahagiaan kita.

Mari kita coba. Bayangkan dan hadirkan sosok tersebut di depan Anda sekarang. Ingat. Penolakan melakukannya, justru menunjukkan betapa ‘besar’ yang telah Anda berikan pada orang tersebut dalam hidup Anda. Jadi, mari kita hadapi. Sadari emosi dan sensasi apa saja yang mengalir dalam dari Anda ketika merasakan kehadirannya. Tanpa Anda sadari, otot sekitar mata Anda menegang, perut mengejang, kepala Anda mundur sedikit ketika menyadari betapa dekatnya Anda dengan orang yang selalu ingin Anda hindari itu.

Lihat wajahnya dan katakana padanya: “Mulai saat ini dan seterusnya, kebahagiaanku tidak tergantung pada perbuatanmu padaku. Aku bersedia, bisa dan mau memaafkanmu saat ini juga.” Kemudian jalani proses melepaskan itu. Bayangkan Anda berada di tengah sungai yang mengalir. Ada sebuah benda yang menyangkut di kaki Anda. Lepaskan, dan biarkan benda itu pergi bersama aliran air sungai. Jika Anda merasa tidak nyaman, atur kembali nafas Anda, dan izikan semua ketegangan yang Anda rasakan, secara perlahan-lahan terlepas dari tubuh Anda, seiring dengan nafas yang pergi. Semakin Anda menarik dan menghembuskan nafas, Anda semakin rileks dan membiarkan ketegangan itu pergi.

Apa sih manfaat Let-go ini?

1.Anda tidak lagi mengukur orang lain menurut harapan-harapan Anda. Anda boleh menilai, tetapi Anda tiak menghakimi.

2.Anda tidak lagi risau dengan pendapatnya, pikirannya, perkataannya yang mungkin saja memang tidak selalu positif.

3.Anda mulai merasa nyaman. Ketegangan yang biasa Anda rasakan setiap kali sosok itu hadir, tersebut atau namanya disebut orang, perlahan hilang. Anda menjadi lebih ringan dan rileks

4.Anda memiliki ruang kebahagiaan yang lebih luas. Jika sebelumnya perasaan sempit dan sesak muncul, itu adalah ruang yang Anda sewakan secara gratis pada sosok itu, berikut emosi negatif yang Anda rekatkan padanya.

5.Anda lebih spontan dan produktif

6.Menjadi lebih toleran dan ramah

7.Lebih mudah tersenyum

Manusia, sekuat apapun dia, tidak mampu mengambil kendali hidup Anda, kecuali Anda mengizinkannya. Besarnya ia dalam hidup Anda, ditentukan oleh seberapa besar porsi perhatian yang Anda beri untuk menanggapi dirinya. Dan, bukan kebetulan manusia itu hadir dalam hidup Anda. Mereka dihadirkan untuk mengajari Anda sesuatu. Mereka ada karena sudah ditetapkan demikian. sebagai jalan bagi pesan pesan yang membuat Anda menjadi lebih bijak. Mengajaknya bertarung, hanya membuat pesan-pesan sejatinya terabaikan. Dan, bukankah menang jadi arang, kalah jadi abu. Sehingga akhirnya kelelahan saja yang Anda dapatkan. Tidak ada episode 'sosok yang tertukar' dalam hidup Anda, semua sudah sesuai dengan ketentuanNYA.

 

"Barang siapa yang tidak ridha terhadap ketentuanku,dan tidak sabar atas musibah dariku,maka carilah tuhan selain aku.” (HR BUKHARI dan Muslim)


Rima Olivia