Pejuang Ilmu Berdasi

 

Belajar di atas jam kerja bagi sebagian pekerja kantoran hampir mustahil dibayangkan. Tetapi saya mengenal betul teman-teman pekerja yang semangat belajarnya tinggi sekali. Menembus macet, menikmati berojeg, berhimpitan di commuter line, berkejaran dengan waktu agar jadwal trans Jakartanya sesuai dengan waktu belajar. Jakarta memang kejam pada jam pulang kantor. Apa? Pulang kantor?

Iya, rekan-rekan yang saya ceritakan ini bukan penuntut ilmu biasa. Mereka bekerja keras, dan terus mengisi kepala. Tantangannya? Tentu saja luar biasa. Barangkali itu yang membuat mereka berada di atas rata-rata.

 

Jangan bayangkan pembelajar yang bersungut-sungut dengan tugas, jam pelajaran atau pekerjaan rumah yang menumpuk. Jangan bayangkan keluh kesah dan gerutuan. Hadirkan di benak Anda, mata berbinar-binar, tangan-tangan yang cepat mengacung ketika kesempatan bertanya dibuka. Ini adalah sekumpulan orang-orang haus yang siap melahap apa saja. Mencoret di catatannya, menyimpan di gadget-nya. Mereka ini, penggemar ilmu.

 

Pejuang-pejuang ilmu ini biasa ditemui di kelas-kelas karyawan universitas yang menyediakan kelas khusus bagi para pekerja, kelas berbagi yang saat ini menjamur, ruang seminar dan pelatihan baik pelatihan teknis maupun pelatihan pengembangan diri. Ini bukan fiksi atau utopia. Mereka nyata ada. Mereka ada dimana-mana.

 

Mungkin Anda heran, dari mana datang tenaganya, darimana energinya? Setelah seharian berkarya. Cari apa lagi? Mungkin terlintas di benak Anda pertanyaan itu. Jawabannya adalah, kebahagiaan intrinsik ketika mengembangkan diri dalam bidang yang menantang kita.

 

Meraih sukses dan pengakuan pada tugas-tugas yang challenging, menerapkan keterampilan pada bidang pekerjaan yang kita kuasai, dan bekerja dalam rangkaian goals adalah salah satu aspek yang menguatkan kebahagiaan. (Positive Psychology, the Science of Happiness and Human Strengths, Alan Carr, 2004).

 

Setelah mengalami pencapaian tertentu di tempat kerja, ada sebuah rasa ‘butuh’. Mereka lapar pada pencerahan, sensasi dari tidak tahu menjadi tahu, perasaan menyenangkan dari tidak bisa menjadi bisa. Dan, mereka tahu benar bahwa harga yang harus dibayar adalah dengan belajar lagi, dan lagi. Orang-orang semacam ini, mencari personal growth dan pengembangan dirinya untuk menguatkan esteem, memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan dirinya. Kesejahteraan mental, fisik dan finansial.

 

Sang Maha Memiliki ilmu pun, mencintai mereka. Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. — (HR. Ahmad)

Rima Olivia

Jakarta, 5 Pebruari 2015

130084  mood-the-book-pink-glasses-rim-bright-beautiful-background-wallpaper-for-your-desktop p