Mari Ber-na-fas

Hanya ketika bernafas, kita hidup.

Nafas, kadang mewakili keseluruhan hidup ini. Nafas yang kita tarik dan keluarkan, menggambarkan, kita tidak bisa terus-terus menarik tanpa mengeluarkan. Udara yang datang dan pergi melalui nafas, menggambarkan segala hal di dunia ini pun datang dan pergi. Kita tidak bisa terus-terusan memberi, tanpa menerima. Dan seterusnya

 

Tidak ada yang lebih membebaskan selain kita berpikir bahwa semuanya datang dan pergi. Bayangkan bila masalah Anda, rumah Anda, pekerjaan Anda, kemarahan Anda, kesukaan Anda, datang terus menerus tanpa pernah pergi. Bukankah, memahami bahwa datang dan pergi itu membebaskan? Membuat kita mampu berpikir bahwa melepaskan itu justru menguatkan. Melepaskan beban berat, menguatkan kita untuk meneruskan perjalanan berikutnya.

 

Mereka yang sedang tegang, sedang marah, sedang tidak fokus, memiliki pola nafas yang kacau. Nafasnya pendek-pendek. Otot sekitar wajahnya menegang, suaranya biasanya tidak menyenangkan untuk didengar. Kadang-kadang malah, mereka lupa sedang bernafas. Nafas yang disadari (mindful breathing) dengan cepat melambatkan gelombang otak. Memudahkan kita mencapai ketenangan. Para ahli berkata, saat mengatur nafas dengan lebih tenang, otak kita menjumpai gelombang alfa Alpha State: (9 - 13Hz) Brain waves start to slow down out of thinking mind. We feel more calm, peaceful and grounded.

 

Setelah menyadari bernafas lalu apa? Saat menyadari nafas, kita lalu lebih mampu mendengar suara-suara yang kita katakan pada diri sendiri. Suara kepada diri sendiri yang seringkali lebih kejam, dibandingkan suara yang kita sampaikan kepada orang lain. Jika teman Anda gagal melakukan sesuatu misalnya, (kalau Anda orang baik, dan saya yakin itu) spontan Anda berkata:”Gapapa, coba lagi, bisa kok.” Jarang sekali Anda segera berkata: ”Mampus lo. Ah, tolol banget sih. Masa gitu aja ga bisa?” Tapiiii, kita sering sekali mengatakannya pada diri sendiri. Kondisinya, mereka yang berprestasi, ketika menemui kegagalan, sering sekali merendahkan dirinya sendiri. Lebih kejam pada dirinya dibandingkan orang lain.

 

Jadi, setelah bernafas, kita akan lebih mudah bertemu dengan suara-suara kita. perhatikan suara-suara itu. Ingat-ingat lagi ‘lipservice’ yang kita sering ucapkan pada orang lain: “Semua ini ada hikmahnya. Semua orang dan peristiwa adalah guru.” Maka, ucapkan saja kata-kata semacam itu. Saya yakin Anda punya banyak. Pada kejadian itu, tanyakan pada diri Anda: Pelajaran apa yang sedang diajarkan peristiwa ini pada saya. Dan semua proses ini ‘hanya’ diawali dengan bernafas, mengatur nafas.

 

Sufyan ats-Tsauri berkata, "Bukan termasuk orang pandai jika tidak menganggap musibah itu sebagai nikmat dan kegembiraan sebagai musibah."

Rima Olivia

6 Pebruari 2015


195634  flying-flower p